BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pengertian tentang museum dari
zaman ke zaman selalu berubah. Hal ini disebabkan museum senantiasa mengalami
perubahan tugas dan kewajibannya. Museum merupakan suatu gejala sosial atau
kultural dan mengikuti sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang
menggunakan museum itu sebagai prasarana sosial atau kebudayaan. Museum berakar
dari kata Latin museion, yaitu kuil untuk sembilan dewi Muse, anak-anak Dewa
Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur. Dalam perkembangannya museion
menjadi tempat kerja ahli-ahli pikir zaman Yunani kuna, seperti Pythagoras dan
Plato. Mereka menganggap museion adalah tempat penyelidikan dan pendidikan
filsafat, sebagai ruang lingkup ilmu dan kesenian. Dengan kata lain tempat
pembaktian diri terhadap ke sembilan Dewi Muse tadi. Museum yang tertua sebagai
pusat ilmu dan kesenian terdapat di Iskandarsyah.
Lama-kelamaan
gedung museum tersebut, yang pada mulanya tempat pengumpulan benda-benda dan
alat-alat yang diperlukan bagi penyelidikan ilmu dan kesenian, berubah menjadi
tempat mengumpulkan benda-benda yang dianggap aneh. Perkembangan ini meningkat
pada abad pertengahan. Kala itu yang disebut museum adalah tempat benda-benda
pribadi milik pangeran, bangsawan, para pencipta seni dan budaya, serta para
pencipta ilmu pengetahuan. Kumpulan benda (koleksi) yang ada mencerminkan minat
dan perhatian khusus pemiliknya.
Benda-benda
hasil seni rupa ditambah benda-benda dari luar Eropa merupakan modal yang kelak
menjadi dasar pertumbuhan museum-museum besar di Eropa. “Museum” ini jarang
dibuka untuk masyarakat umum karena koleksinya menjadi ajang prestise dari
pemiliknya dan biasanya hanya diperlihatkan kepada para kerabat atau
orang-orang dekat. Museum juga pernah diartikan sebagai kumpulan ilmu pengetahuan
dalam karya tulis seorang sarjana. Ini terjadi di zaman ensiklopedis yaitu
zaman sesudah Renaissance di Eropa Barat, ditandai oleh kegiatan orang-orang
untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan mereka tentang manusia, berbagai
jenis flora maupun fauna serta tentang bumi dan jagat raya di sekitarnya.
Gejala berdirinya museum tampak pada akhir abad ke-18 seiring dengan
perkembangan pengetahuan di Eropa. Negeri Belanda yang merupakan bagian dari
Eropa dalam hal ini juga tidak ketinggalan dalam upaya mendirikan museum.
Perkembangan
museum di Belanda sangat mempengaruhi perkembangan museum di Indonesia. Diawali
oleh seorang pegawai VOC yang bernama G.E. Rumphius yang pada abad ke-17 telah
memanfaatkan waktunya untuk menulis tentang Ambonsche Landbeschrijving yang
antara lain memberikan gambaran tentang sejarah kesultanan Maluku, di samping
penulisan tentang keberadaan kepulauan dan kependudukan. Memasuki abad ke-18
perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan, baik pada masa VOC maupun
Hindia-Belanda, makin jelas. Pada 24 April 1778 berdiri Bataviaach Genootschap
van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga tersebut berstatus setengah resmi,
dipimpin oleh dewan direksi. Pasal 3 dan 19 Statuten pendirian lembaga tersebut
menyebutkan bahwa salah satu tugasnya adalah memelihara museum yang meliputi:
pembukuan (boekreij); himpunan etnografis; himpunan kepurbakalaan; himpunan
prehistori; himpunan keramik; himpunan muzikologis; himpunan numismatik, pening
dan cap-cap; serta naskah-naskah (handschriften), termasuk perpustakaan.
Lembaga
tersebut mempunyai kedudukan penting bukan saja sebagai perkumpulan ilmiah,
tetapi juga karena para anggota pengurusnya terdiri dari tokoh-tokoh penting
dari lingkungan pemerintahan, perbankan dan perdagangan. Yang menarik dalam pasal
20 Statuten menyatakan bahwa benda yang telah menjadi himpunan museum atau
Genootschap tidak boleh dipinjamkan dengan cara apapun kepada pihak ketiga dan
anggota-anggota atau bukan anggota untuk dipakai atau disimpan, kecuali
mengenai perbukuan dan himpunan naskah-naskah (handschiften) sepanjang
peraturan membolehkan.
Pada waktu
Inggris mengambil alih kekuasan dari Belanda, Raffles sendiri yang langsung
mengepalai Batavia Society of Arts and Sciences. Kegiatan perkumpulan itu tidak
pernah berhenti, bahkan Raffles memberi tempat yang dekat dengan istana
Gubernur Jendral yaitu di sebelah Harmoni (Jl. Majapahit No. 3 sekarang).
Selama kolonial Inggris nama lembaga diubah menjadi Literary Society. Namun
ketika Belanda berkuasa kembali, diganti pada nama semula, Bataviaasch
Genootschap Van Kunsten en Watenschappen dan memusatkan perhatian pada ilmu
kebudayaan, terutama ilmu bahasa, ilmu sosial, ilmu bangsa-bangsa, ilmu
purbakala, dan ilmu sejarah. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam
mendorong berdirinya lembaga-lembaga lain. Di Batavia anggota lembaga bertambah
terus, perhatian di bidang kebudayaan berkembang dan koleksi meningkat
jumlahnya, sehingga gedung di Jl. Majapahit menjadi sempit. Pemerintah kolonial
Belanda membangun gedung baru di Jl. Merdeka Barat No. 12 pada 1862. Karena
lembaga tersebut sangat berjasa dalam penelitian ilmu pengetahuan, maka
pemerintah Belanda memberi gelar “Koninklijk Bataviaasche Genootschap Van
Kunsten en Watenschappen”. Lembaga yang menempati gedung baru tersebut telah
berbentuk museum kebudayaan yang besar dengan perpustakaan yang lengkap
(sekarang Museum Nasional).
Sejak
pendirian Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen untuk pengisian
koleksi museumnya telah diprogramkan antara lain berasal dari koleksi
benda-benda bersejarah dan kepurbakalaan baik dari kalangan pemerintah maupun
masyarakat. Semangat itu telah mendorong untuk melakukan upaya pemeliharaan,
penyelamatan, pengenalan bahkan penelitian terhadap peninggalan sejarah dan
purbakala. Kehidupan kelembagaan tersebut sampai masa Pergerakan Nasional masih
aktif bahkan setelah Perang Dunia I. Masyarakat setempat didukung Pemerintah
Hindia Belanda menaruh perhatian terhadap pendirian museum di beberapa daerah
di samping yang sudah berdiri di Batavia, seperti Lembaga Kebun Raya Bogor yang
terus berkembang di Bogor. Von Koenigswald mendirikan Museum Zoologi di Bogor
pada 1894. Lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang bernama Radyapustaka
(sekarang Museum Radyapustaka) didirikan di Solo pada 28 Oktober 1890, Museum
Geologi didirikan di Bandung pada 16 Mei 1929, lembaga bernama Yava Instituut
didirikan di Yogyakarta pada 1919 dan dalam perkembangannya pada 1935 menjadi
Museum Sonobudoyo. Mangkunegoro VII di Solo mendirikan Museum Mangkunegoro pada
1918. Ir. H. Maclaine Pont mengumpulkan benda purbakala di suatu bangunan yang
sekarang dikenal dengan Museum Purbakala Trowulan pada 1920. Pemerintah
kolonial Belanda mendirikan Museum Herbarium di Bogor pada 1941.
Di luar Pulau
Jawa, atas prakarsa Dr.W.F.Y. Kroom (asisten residen Bali) dengan raja-raja,
seniman dan pemuka masyarakat, didirikan suatu perkumpulan yang dilengkapi
dengan museum yang dimulai pada 1915 dan diresmikan sebagai Museum Bali pada 8
Desember 1932. Museum Rumah Adat Aceh didirikan di Nanggroe Aceh Darussalam
pada 1915, Museum Rumah Adat Baanjuang didirikan di Bukittinggi pada 1933,
Museum Simalungun didirikan di Sumatera Utara pada 1938 atas prakarsa raja
Simalungun.
Sesudah
kemerdekaan Indonesia 1945 keberadaan museum diabadikan pada pembangunan bangsa
Indonesia. Para ahli bangsa Belanda yang aktif di museum dan lembaga-lembaga
yang berdiri sebelum 1945, masih diizinkan tinggal di Indonesia dan terus
menjalankan tugasnya. Namun di samping para ahli bangsa Belanda, banyak juga
ahli bangsa Indonesia yang menggeluti permuseuman yang berdiri sebelum 1945
dengan kemampuan yang tidak kalah dengan bangsa Belanda.
Memburuknya
hubungan Belanda dan Indonesia akibat sengketa Papua Barat mengakibatkan
orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia, termasuk orang-orang pendukung
lembaga tersebut. Sejak itu terlihat proses Indonesianisasi terhadap berbagai
hal yang berbau kolonial, termasuk pada 29 Februari 1950 Bataviaach Genootschap
van Kunsten en Wetenschappen yang diganti menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia
(LKI). LKI membawahkan dua instansi, yaitu museum dan perpustakaan. Pada 1962
LKI menyerahkan museum dan perpustakaan kepada pemerintah, kemudian menjadi
Museum Pusat beserta perpustakaannya. Periode 1962-1967 merupakan masa sulit
bagi upaya untuk perencanaan mendirikan Museum Nasional dari sudut
profesionalitas, karena dukungan keuangan dari perusahaan Belanda sudah tidak
ada lagi. Di tengah kesulitan tersebut, pada 1957 pemerintah membentuk bagian
Urusan Museum. Urusan Museum diganti menjadi Lembaga Urusan Museum-Museum
Nasional pada 1964, dan diubah menjadi Direktorat Museum pada 1966. Pada 1975,
Direktorat Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman.
Pada 17
September 1962 LKI dibubarkan, Museum diserahkan pada pemerintah Indonesia
dengan nama Museum Pusat di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Museum Pusat diganti namanya menjadi Museum Nasional pada 28 Mei 1979.
Penyerahan museum ke pemerintah pusat diikuti oleh museum-museum lainnya.
Yayasan Museum Bali menyerahkan museum ke pemerintah pusat pada 5 Januari 1966
dan langsung di bawah pengawasan Direktorat Museum. Begitu pula dengan Museum
Zoologi, Museum Herbarium, dan museum lainnya di luar Pulau Jawa mulai
diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sejak museum-museum diserahkan ke pemerintah
pusat, museum semakin berkembang. Bahkan museum baru pun bermunculan, baik
diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh yayasan-yayasan swasta.
Perubahan
politik akibat gerakan reformasi yang dipelopori oleh para mahasiswa pada 1998,
telah mengubah tata negara Republik Indonesia. Perubahan ini memberikan dampak
terhadap permuseuman di Indonesia. Direktorat Permuseuman diubah menjadi
Direktorat Sejarah dan Museum di bawah Departemen Pendidikan Nasional pada
2000. Pada 2001, Direktorat Sejarah dan Museum diubah menjadi Direktorat
Permuseuman. Susunan organisasi diubah menjadi Direktorat Purbakala dan
Permuseuman di bawah Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata pada 2002.
Direktorat Purbakala dan Permuseuman diubah menjadi Asdep Purbakala dan
Permuseuman pada 2004. Akhirnya pada 2005, dibentuk kembali Direktorat Museum
di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata. (Tim Direktorat Museum)
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1
Sejarah awal dan berdirinya museum mpu tantular
1.2.2
Koleksi dari museum mpu tantular
1.2.3
Museum mpu tantular sebagai media pembelajaran sejarah
1.3 Tujuan
1.3.1
mengetahui awal berdirinya museum mpu tantular
1.3.2
mengetahui koleksi dari museum mpu tantular
1.3.3
menghubungkan keberadaan museum mpu tantular dengan
fungsi nya sebagai media pembelajaran sejarah
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah Museum Epu Tantular
Museum Negeri Mpu
Tantular Propinsi Jawa Timur merupakan kelanjutan dari Stedelijh Historisch Museum
Surabaya, yang didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber tahun 1933 yang
kemudian diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937.Usaha memperluas museum terlaksana dengan diperolehnya
sebuah bangunan baru di Jalan Simpang (sekarang Jalan Pemuda 3 Surabaya) dan
dibiayai oleh dana yang terkumpul dari masyarakat. Tata ruangan museum ini
mempunyai suatu ruangan koleksi, perpustakaan, ruang kantor, auditorium. Untuk
penyempurnaan museum yang dipimpinnya, Von Vaber banyak mengadakan hubungan
internasional. Namun sebelum cita-citanya tercapai, Von Vaber meninggal pada
tanggal 30 September 1955.
Sepeninggal
Von Vaber, museum tersebut tidak terawat, koleksi-koleksinya banyak yang rusak
dan hilang. Kemudian museum dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum. Pada tahun
1964, museum ini memperoleh pendanaan dari Yayasan Bapak Prof Dr. M. Soetopo.
Setelah dibentuknya Direktorat Permuseuman di lingkungan Departemen Pendidikan
Dan Kebudayaan, perhatian Pemerintah terhadap museum yang dikelola Yayasan
Pendidikan Umum menjadi lebih serius.
Museum
Pendidikan Umum dibuka secara umum tanggal 23 Mei 1972 dan diresmikan dengan
nama "Museum Jawa Timur". Selanjutnya timbul inisiatif untuk
menyerahkan Lembaga Kebudayaan ini kepada Pemerintah Daerah Propinsi Jawa
Timur. Dalam proses penegerian, Yayasan Pendidikan Umum bekerja sama dengan
perwakilan Kantor Pembinaan Permuseuman Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan
diterbitkannya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 13 Februari 1974
Nomor 040/C/1974, Museum Jawa Timur berstatus Museum Negeri. Peresmian
dilakukan tanggal 1 Nopember 1974 dengan serah terima
dari Ketua Yayasan Pendidikan Umum untuk Kebudayaan R. Banu Iskandar kepada
Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. I.B. Mantra. Selanjutnya museum Jawa
Timur diresmikan dengan nama "Museum Negeri Jawa Timur Mpu Tantular"
dengan lokasi di Jalan Pemuda 3 Surabaya. Karena bertambahnya koleksi, pada
pertengahan tahun 1975 Museum dipindahkan ke tempat yang lebih luas yaitu di
Jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya, yang diresmikan pada tanggal 12 Agustus
1977 oleh Gubernur Jawa Timur Sunandar Priyosudarmo.
2.2 koleksi benda benda sejarah
dari museum mpu tantular
·
Koleksi Di Aula
1.
TUK-TUK
Asal
: Sumenep - Madura, merupakan alat komunikasi tradisional, berfungsi sebagai
atribut sosial, biasanya dimiliki oleh Kepala Desa. Semakin terawat baik
melambangkan derajatnya semakin baik.

2.
Miniatur
Candi Borobudur Dan Candi Prambanan
Miniatur candi Borobudur skala 1 :
100
Candi
yang bersifat Budhistis ini dibangun oleh Dynasti Sailendra, pada tahun 842
Masehi. Candi yang didirikan di daerah Muntilan (Magelang) ini dibuat dengan
konstruksi bangunan bertingkat, bagian puncaknya berbentuk Stupa. Tingkatan
dalam Candi Borobudur ini merupakan simbul tentang tingkatan yang harus dilalui
oleh seorang Bodhisatwa menuju tingkat Budha yang tinggi. Gambaran arti
simbulnya dapat disimak dari relief yang dipahatkan pada dinding candi dari
tingkat yang paling bawah hingga tingkat yang paling atas yang berbentuk Stupa
kosong. Bagi pemeluk agama Budha, hingga kini masih memanfaatkan candi
Borobudur ini untuk melakukan kegiatan upacara Agama, misalnya upacara Waisak.
Miniatur
candi Prambanan skala 1 : 250
Candi Prambanan/Candi Lorojonggrang adalah candi peninggalan Raja Balitung (abad X), sebagai komplek percandian. Candi prambanan terdiri dari candi induk dan beberapa candi perwara yang diatur mengelilingi candi induk tersebut. Kompleks candi Prambanan yang didirikan di desa Prambanan, Kabupaten Sleman ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa-dewa agama Hindu, pada dinding Relief yang menceritakan Ceritera Ramayana.
Patung Praja Paramita (Replika)
Asal
: Jakarta. Sebagai lambang ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Patung Praja
Paramita sangat terkenal dilingkungan penganut Agama Budha, patung yang
menggambarkan tingginya karya seni jaman Hindhu-Budha di Jawa Timur ini, pernah
tinggal di Negeri Belanda bebarapa puluh tahun lamanya. Berkat kerja antara
pemerintahan indonesia dengan pemerintah Belanda patung Praja Paramita dapat
kembali ke Indonesia, dan sekarang tersimpan di Museum Nasional. Sikap duduk
diatas bantalan teratai dengan tatakan berbentuk segi empat bersandar pada
Praba (sandaran belakang) berbentuk kurawal, berhias lidah api. Tangan depan
bersikap Dharmacakra Mudra, yaitu sikap tangan memutar roda. Sikap tangan
seperti ini merupakan ciri khas meditasi sebagai simbul perputaran sebab akibat
dalam lingkungan hidup, tangan lain tampak membawa buku (keropak) diatas
teratai.
Patung Brahma
Dewa
Pencipta alam Semesta. Asal : Stedelijk Historich Museum Surabaya

PATUNG WISNU
Dewa
Pelindung Alam Semesta Asal : Stedelijk Historisch Museum Surabaya
Patung Siwa
Dewa
Perusak alam semesta Asal : Stedelijk Historisch Museum Surabaya
Patung Durga Mahisasuramardhini
Asal : Candi
Jawi (Pasuruan) Dalam wujudnya sebagai Durga Mahisasuramardhini, Dewi Durga/
Dewi Uma/Dewi Parwati ; dilukiskan sedang berjuang mengalahkan Asura dalam
wujud raksasa, dikisahkan Kahyangan tempat para Dewa tinggal, mengalami
kekacauan akibat ulah seekor kerbau (Mahisa). Prajurit para Dewa tidak mampu
mencegah, berkat kesaktiannya Dewi Parwati (Sakti/istri) Dewa Siwa, berubah wujud
menjadi Dewi Durga, yaitu seorang Reksi, dengan gagah berani dihadapi Mahesa
yang sedang mengamuk tersebut. Mahesapun dapat ditangkap, saat akan dibunuh
Mahesa berubah wujud menjadi seorang raksasa atau asura. Asura sebagai lambang
kejahatan dapat ditaklukkan oleh Dewi Duga Mahisasuramardhini diwujudkan
sebagai perlambang kebaikan melawan kejahatan, dan seberapapun besarnya
kekuatan kejahatan pasti dapat dihancurkan oleh kebaikan sekecil apapun
wujudnya, sebagai wanita tentu kekuatan para dewa, namun karena berada difihak
yang benar, ternyata mampu menaklukan kekuatan ASURA yang diwujudkan dalam
bentuk Mahisa (Kerbau).
2.3
Museum
Sebagai Media Pembelajaran Sejarah
Sejarah merupakan kejadian atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau yang membawa
perubahan dan perkembangan secara berkesinambungan. Sebagai peristiwa, sejarah
adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada
masa lampau (past human effect) yang sekali
terjadi (einmatig). Oleh karena itu, suatu peristiwa sejarah tidak dapat diulang, karena hanya terjadi
pada masa lampau tersebut.
Media dalam pembelajaran sejarah memegang peranan dan posisi yang penting. Hal ini dikarenakan media membantu dalam
menggambarkan dan memberikan
informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Peranan media yang lain adalah sebagai pengembang konsep generalisasi
serta membantu dalam memberikan pengafaman dari bahan yang abslrak -seperti buku teks- menjadi
bahan yang jelas dan nyata. Selain peranan tersebut, Saripudin menyatakan bahwa media pembelajaran
berfungsi sebagai sumber belajar dan dimanfaatkan untuk memfasilitasi kegiatan belajar (Djamarah,
2002:139). Dengan demikian
untuk mewujudkan efektivitas pembelajaran
sejarah hams dilakukan optimalisasi penggunaan media pembelajaran.
Pada
pendidikan tingkat dasar dan menengah,
peran media sangat diperlukan dalam pengajaran sejarah. Hal ini selain
mempermudah guru dalam penyampaian materi, media berfungsi untuk mengembangkan kemampuan indera anak
didik. Pada tingkat
perguruan tinggi media sangat penting bagi mahasiswa dalam pemahaman dan penerimaan informasi. Peiajar akan absurd bita
membayangkan jenis kapak
batu apabiia hanya dari informasi verbal. Namun peiajar akan segera mengetahui jenis kapak batu pada zaman prasejarah dengan
meiihat langsung, atau melalui media gambar dan foto. Salah satu media yang dapat digunakan sebagai upaya
untuk meningkalkan
pemahaman terhadap materi zaman prasejarah adalah museum.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, museum merupakan (1) gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap
benda-benda yang patut untuk
mendapat perhafian umum seperti peninggalan sejarah dan arkeologis, seni dan ilmu; (2) tempat untuk menyimpan barang kuno
{Depdikbud, 1990). Pengertian
tentang museum telah dirumuskan oleh ICOM [International Council of Museum),
yaitu museum adalah suatu lembaga bersifat tetap, tidak mencari keuntungan dalam melayani
masyarakat, dan dalam perkembangannya terbuka untuk umum, yang berfungsi mengawetkan, mengomunikasikan, dan memamerkan barang-barang pembuktian manusia
dan iingkungan untuk tujuan pengkajian,
pendidikan, dan kesenangan (Sulaiman, 1990:100-107).
Ada beberapa pembagian museum. Menurut koleksinya, museum dibedakan menjadi dua yaitu museum
umum dan museum khusus. Sedangkan menurut lokasinya museum dibagi menjadi tiga, yaitu museum nasional, museum lokal, dan museum lapangan {Sulaiman, 1990:100-107). Semua jenis museum memiliki furtgsi yang sama yaitu
a) tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan koleksi yang ada di museum
b) pusat informasi dan penelitian,
c)
sarana
untuk memberikan gambaran tentang
koleksi bahan-bahan yang menarik dan institusional,
d) media pembelajaran bidang studi tertentu, dan sebagai objek karyawisata (Natawidjaja, 1979:113-114).
Dalam dunia pendidikan, museum memiliki peranan sebagai media pembelajaran. Peranan museum sebagai media pembelajaran disebabkan
fungsi museum yang memberikan informasi
konkret kepada masyarakat dalam hal ini siswa dan
guru. Dalam pembelajaran sejarah, museum merupakan
tempat ideal sebagai sumber. informasi kesejarahan. Hal ini dikarenakan dalam museum terdapat
banyak benda yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang berfungsi sebagai sarana peningkatan pemahaman terhadap peristiwa
sejarah bagi peiajar.
Memahami Zaman Prasejarah dengan Penggunaan Museum sebagai Media Pembelajaran. Museum
dapat digunakan sebagai media pembelajaran
dengan menyesuaikan materi pelajaran. Penggunaan museum sebagai media
pembelajaran disebabkan karena
kompleksitas media yang tersedia sebagai penjelasan suatu peristiwa. Hal ini memberikan berbagai kemudahan bagi peiajar dalam
memahami benda yang
dipamerkan. Kemudahan yang diperoleh peiajar adalah karena di dalam museum telah disediakan berbagai media yang banyak
memberikan informasi. Media
tersebut dapat berupa model, realita, tabel, poster, atau sistem multimedia elektronik seperti media audiovisual. Namun demikian, tidak
semua museum dapat dimanfaatkan dalam upaya
peningkatan pemahaman peiajar terhadap materi zaman prasejarah. Hal ini dikarenakan tidak semua museum
terdapat media yang
menjelaskan tentang zaman prasejarah
Di dalam museum, media yang dijadikan sumber belajar berupa sumber primer dan olahannya. Sumber
primer merupakan benda peninggalan atau jejak-jejak kehidupan, meliputi artefak, fosil, ecofak, featur, isefak. Artefak yaitu benda
yang sebagian atau seluruhnya dibuat oleh
manusia, fosil yaitu sisa kehidupan
yang telah membatu, ecofac yaitu benda yang tidak dibentuk manusia tetapi berhubungan dengan manusia, feature
yaitu jejak-jejak yang ditinggalkan
manusia/jejak kehidupannya serta isefak atau hunian manusia. Di museum,
sumber primer ini disediakan dalam wujud asli atau model, hasil olahan berupa gambar atau foto, serta penjelasan nya
dalam sistem multimedia berbentuk
media audiovisual, dan media gratis.
Dalam kegiatan pembelajaran, upaya untuk mempermudah penerimaan informasi dilakukan dengan penggunaan media pembeiajaran. Untuk
menjelaskan mengenai masa
sebelum munculnya manusia, digunakan
media media berupa media audio visual berupa film, transparansi, gambar yang menggambarkan kehidupan pada masa itu dalam bentuk panel, poster penjelasan tentang
proses pembentukan bumi dan perkembangannya serta
fosil (realita) dan model. Selain itu juga bisa digunakan data hasil analisis
geologis yang telah diolah dalam bentuk media gratis.
Media yang digunakan untuk menjelaskan materi evolusi manusia antara lain fosil untuk menjelaskan perbandingan dan ciri-ciri
manusia, bagan yang
disusun untuk menjelaskan perkembangan kehidupan manusia purba dari munculnya
sampai manusia modem, gambar yang menerangkan dan mem bantu visualisasi peiajar tentang benda
dan situasi tertentu. Peta
untuk menjelaskan persebaran kehidupan
manusia purba, film, dan Iain-Iain.
Penjelasan tentang materi zaman kebudayaan batu dan perundagian dapat dilakukan dengan penggunaan media realita berupa
peninggalan-peninggalan
kebudayaan pada masa itu seperti kapak batu, kapak lonjong, nekara, moko, perhiasan dan peninggalan kebudayaan lainnya. Selain itu,
digunakan pula gambar yang
menerangkan kehidupan manusia pada
zaman batu, bagan tentang perkembangan kehidupan masyarakat, tabel sejarah, film tentang kehidupan manusia
pada masa itu, dan Iain-Iain. Penggunaan
media elektronik sebagai penunjang bisa pula dipertimbangkan dalam mempermudah penjelasan tentang zaman
prasejarah.
Pemanfaatan museum sebagai media pembelajaran dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman pelajar terhadap materi zaman
prasejarah. Hal ini dikarenakan
dalam museum terdapat berbagai macam
media yang membantu siswa memahami materi tentang zaman prasejarah secara nyata. Melalui museum, pelajar belajar secara langsung
tentang zaman prasejarah baik melalui realita, model,
grafis, dan sistem multimedia, sehingga informasi
yang didapatkan tidak bersifat verbalistis dan
abstrak, tetapi besifat
konkret. Adanya informasi konkret dari media ini, akan membantu tewujudnya konsep visualisasi, intrepretasi, dan generalisasi pelajar
terhadap materi zaman prasejarah. Dengan tercapainya tiga aspek tersebut, yaitu visualisasi, interpretasi,
dan generalisasi maka pemahaman pelajar ferhadap materi zaman prasejarah teiah terwujud. pembelajaran berbasis media adaiah dengan penggunaan museum sebagai media
pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah, museum berfungsi untuk mewujudkan visualisasi, interpretasi, dan
generalisasi. Hal ini dikarenakan terdapat banyak media yang menyampaikan
berbagai informasi kepada pelajar, khususnya tentang zaman prasejarah. Media yang terdapat dalam museum yang dapat menjelaskan
tentang materi zaman prasejarah antara lain
bagan, grafik, gambar, diorama, sistem multimedia,
serta replika dan model. Oleh karena ilu, dengan
optimaiisasi penggunaan media
pembelajaran akan terwujud kegiatan
pembelajaran yang efektif, sehingga pemahaman petajar tentang materi zaman prasejarah akan terwujud.
Bab III
SIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Museum Negeri
Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur merupakan kelanjutan dari Stedelijh Historisch
Museum Surabaya, yang didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber tahun 1933
yang kemudian diresmikan pada tanggal 25 Juli
1937.Usaha memperluas
museum terlaksana dengan diperolehnya sebuah bangunan baru di Jalan Simpang
(sekarang Jalan Pemuda 3 Surabaya) dan dibiayai oleh dana yang terkumpul dari
masyarakat. Tata ruangan museum ini mempunyai suatu ruangan koleksi,
perpustakaan, ruang kantor, auditorium. Untuk penyempurnaan museum yang
dipimpinnya, Von Vaber banyak mengadakan hubungan internasional. Namun sebelum cita-citanya
tercapai, Von Vaber meninggal pada tanggal 30 September 1955.
Ada beberapa pembagian museum. Menurut koleksinya, museum dibedakan menjadi dua yaitu museum
umum dan museum khusus. Sedangkan menurut lokasinya museum dibagi menjadi tiga, yaitu museum nasional, museum lokal, dan museum lapangan {Sulaiman, 1990:100-107). Semua jenis museum memiliki furtgsi yang sama yaitu
e) tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan koleksi yang ada di museum
f) pusat informasi dan penelitian,
g)
sarana
untuk memberikan gambaran tentang
koleksi bahan-bahan yang menarik dan institusional,
h) media pembelajaran bidang studi tertentu, dan sebagai objek karyawisata (Natawidjaja, 1979:113-114).
Daftar pustaka
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Departemen_Kebudayaan_dan_Pariwisata_Republik_Indonesia.
akses tanggal 6 maret 2012
4. javascript:void(0)
7.
Asmito. 1988. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
8.
Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
9.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
10. Widja, I Gde. 1989. Dasar-Dasar pengembangan Strategi seria Metode
Pengajaran Sejarah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar