Selasa, 13 Maret 2012

lab dan peta sejarah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengertian tentang museum dari zaman ke zaman selalu berubah. Hal ini disebabkan museum senantiasa mengalami perubahan tugas dan kewajibannya. Museum merupakan suatu gejala sosial atau kultural dan mengikuti sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang menggunakan museum itu sebagai prasarana sosial atau kebudayaan. Museum berakar dari kata Latin museion, yaitu kuil untuk sembilan dewi Muse, anak-anak Dewa Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur. Dalam perkembangannya museion menjadi tempat kerja ahli-ahli pikir zaman Yunani kuna, seperti Pythagoras dan Plato. Mereka menganggap museion adalah tempat penyelidikan dan pendidikan filsafat, sebagai ruang lingkup ilmu dan kesenian. Dengan kata lain tempat pembaktian diri terhadap ke sembilan Dewi Muse tadi. Museum yang tertua sebagai pusat ilmu dan kesenian terdapat di Iskandarsyah.
Lama-kelamaan gedung museum tersebut, yang pada mulanya tempat pengumpulan benda-benda dan alat-alat yang diperlukan bagi penyelidikan ilmu dan kesenian, berubah menjadi tempat mengumpulkan benda-benda yang dianggap aneh. Perkembangan ini meningkat pada abad pertengahan. Kala itu yang disebut museum adalah tempat benda-benda pribadi milik pangeran, bangsawan, para pencipta seni dan budaya, serta para pencipta ilmu pengetahuan. Kumpulan benda (koleksi) yang ada mencerminkan minat dan perhatian khusus pemiliknya.
Benda-benda hasil seni rupa ditambah benda-benda dari luar Eropa merupakan modal yang kelak menjadi dasar pertumbuhan museum-museum besar di Eropa. “Museum” ini jarang dibuka untuk masyarakat umum karena koleksinya menjadi ajang prestise dari pemiliknya dan biasanya hanya diperlihatkan kepada para kerabat atau orang-orang dekat. Museum juga pernah diartikan sebagai kumpulan ilmu pengetahuan dalam karya tulis seorang sarjana. Ini terjadi di zaman ensiklopedis yaitu zaman sesudah Renaissance di Eropa Barat, ditandai oleh kegiatan orang-orang untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan mereka tentang manusia, berbagai jenis flora maupun fauna serta tentang bumi dan jagat raya di sekitarnya. Gejala berdirinya museum tampak pada akhir abad ke-18 seiring dengan perkembangan pengetahuan di Eropa. Negeri Belanda yang merupakan bagian dari Eropa dalam hal ini juga tidak ketinggalan dalam upaya mendirikan museum.
Perkembangan museum di Belanda sangat mempengaruhi perkembangan museum di Indonesia. Diawali oleh seorang pegawai VOC yang bernama G.E. Rumphius yang pada abad ke-17 telah memanfaatkan waktunya untuk menulis tentang Ambonsche Landbeschrijving yang antara lain memberikan gambaran tentang sejarah kesultanan Maluku, di samping penulisan tentang keberadaan kepulauan dan kependudukan. Memasuki abad ke-18 perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan, baik pada masa VOC maupun Hindia-Belanda, makin jelas. Pada 24 April 1778 berdiri Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga tersebut berstatus setengah resmi, dipimpin oleh dewan direksi. Pasal 3 dan 19 Statuten pendirian lembaga tersebut menyebutkan bahwa salah satu tugasnya adalah memelihara museum yang meliputi: pembukuan (boekreij); himpunan etnografis; himpunan kepurbakalaan; himpunan prehistori; himpunan keramik; himpunan muzikologis; himpunan numismatik, pening dan cap-cap; serta naskah-naskah (handschriften), termasuk perpustakaan.
Lembaga tersebut mempunyai kedudukan penting bukan saja sebagai perkumpulan ilmiah, tetapi juga karena para anggota pengurusnya terdiri dari tokoh-tokoh penting dari lingkungan pemerintahan, perbankan dan perdagangan. Yang menarik dalam pasal 20 Statuten menyatakan bahwa benda yang telah menjadi himpunan museum atau Genootschap tidak boleh dipinjamkan dengan cara apapun kepada pihak ketiga dan anggota-anggota atau bukan anggota untuk dipakai atau disimpan, kecuali mengenai perbukuan dan himpunan naskah-naskah (handschiften) sepanjang peraturan membolehkan.
Pada waktu Inggris mengambil alih kekuasan dari Belanda, Raffles sendiri yang langsung mengepalai Batavia Society of Arts and Sciences. Kegiatan perkumpulan itu tidak pernah berhenti, bahkan Raffles memberi tempat yang dekat dengan istana Gubernur Jendral yaitu di sebelah Harmoni (Jl. Majapahit No. 3 sekarang). Selama kolonial Inggris nama lembaga diubah menjadi Literary Society. Namun ketika Belanda berkuasa kembali, diganti pada nama semula, Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Watenschappen dan memusatkan perhatian pada ilmu kebudayaan, terutama ilmu bahasa, ilmu sosial, ilmu bangsa-bangsa, ilmu purbakala, dan ilmu sejarah. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan alam mendorong berdirinya lembaga-lembaga lain. Di Batavia anggota lembaga bertambah terus, perhatian di bidang kebudayaan berkembang dan koleksi meningkat jumlahnya, sehingga gedung di Jl. Majapahit menjadi sempit. Pemerintah kolonial Belanda membangun gedung baru di Jl. Merdeka Barat No. 12 pada 1862. Karena lembaga tersebut sangat berjasa dalam penelitian ilmu pengetahuan, maka pemerintah Belanda memberi gelar “Koninklijk Bataviaasche Genootschap Van Kunsten en Watenschappen”. Lembaga yang menempati gedung baru tersebut telah berbentuk museum kebudayaan yang besar dengan perpustakaan yang lengkap (sekarang Museum Nasional).
Sejak pendirian Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen untuk pengisian koleksi museumnya telah diprogramkan antara lain berasal dari koleksi benda-benda bersejarah dan kepurbakalaan baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat. Semangat itu telah mendorong untuk melakukan upaya pemeliharaan, penyelamatan, pengenalan bahkan penelitian terhadap peninggalan sejarah dan purbakala. Kehidupan kelembagaan tersebut sampai masa Pergerakan Nasional masih aktif bahkan setelah Perang Dunia I. Masyarakat setempat didukung Pemerintah Hindia Belanda menaruh perhatian terhadap pendirian museum di beberapa daerah di samping yang sudah berdiri di Batavia, seperti Lembaga Kebun Raya Bogor yang terus berkembang di Bogor. Von Koenigswald mendirikan Museum Zoologi di Bogor pada 1894. Lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang bernama Radyapustaka (sekarang Museum Radyapustaka) didirikan di Solo pada 28 Oktober 1890, Museum Geologi didirikan di Bandung pada 16 Mei 1929, lembaga bernama Yava Instituut didirikan di Yogyakarta pada 1919 dan dalam perkembangannya pada 1935 menjadi Museum Sonobudoyo. Mangkunegoro VII di Solo mendirikan Museum Mangkunegoro pada 1918. Ir. H. Maclaine Pont mengumpulkan benda purbakala di suatu bangunan yang sekarang dikenal dengan Museum Purbakala Trowulan pada 1920. Pemerintah kolonial Belanda mendirikan Museum Herbarium di Bogor pada 1941.
Di luar Pulau Jawa, atas prakarsa Dr.W.F.Y. Kroom (asisten residen Bali) dengan raja-raja, seniman dan pemuka masyarakat, didirikan suatu perkumpulan yang dilengkapi dengan museum yang dimulai pada 1915 dan diresmikan sebagai Museum Bali pada 8 Desember 1932. Museum Rumah Adat Aceh didirikan di Nanggroe Aceh Darussalam pada 1915, Museum Rumah Adat Baanjuang didirikan di Bukittinggi pada 1933, Museum Simalungun didirikan di Sumatera Utara pada 1938 atas prakarsa raja Simalungun.
Sesudah kemerdekaan Indonesia 1945 keberadaan museum diabadikan pada pembangunan bangsa Indonesia. Para ahli bangsa Belanda yang aktif di museum dan lembaga-lembaga yang berdiri sebelum 1945, masih diizinkan tinggal di Indonesia dan terus menjalankan tugasnya. Namun di samping para ahli bangsa Belanda, banyak juga ahli bangsa Indonesia yang menggeluti permuseuman yang berdiri sebelum 1945 dengan kemampuan yang tidak kalah dengan bangsa Belanda.
Memburuknya hubungan Belanda dan Indonesia akibat sengketa Papua Barat mengakibatkan orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia, termasuk orang-orang pendukung lembaga tersebut. Sejak itu terlihat proses Indonesianisasi terhadap berbagai hal yang berbau kolonial, termasuk pada 29 Februari 1950 Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang diganti menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). LKI membawahkan dua instansi, yaitu museum dan perpustakaan. Pada 1962 LKI menyerahkan museum dan perpustakaan kepada pemerintah, kemudian menjadi Museum Pusat beserta perpustakaannya. Periode 1962-1967 merupakan masa sulit bagi upaya untuk perencanaan mendirikan Museum Nasional dari sudut profesionalitas, karena dukungan keuangan dari perusahaan Belanda sudah tidak ada lagi. Di tengah kesulitan tersebut, pada 1957 pemerintah membentuk bagian Urusan Museum. Urusan Museum diganti menjadi Lembaga Urusan Museum-Museum Nasional pada 1964, dan diubah menjadi Direktorat Museum pada 1966. Pada 1975, Direktorat Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman.
Pada 17 September 1962 LKI dibubarkan, Museum diserahkan pada pemerintah Indonesia dengan nama Museum Pusat di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Kebudayaan. Museum Pusat diganti namanya menjadi Museum Nasional pada 28 Mei 1979. Penyerahan museum ke pemerintah pusat diikuti oleh museum-museum lainnya. Yayasan Museum Bali menyerahkan museum ke pemerintah pusat pada 5 Januari 1966 dan langsung di bawah pengawasan Direktorat Museum. Begitu pula dengan Museum Zoologi, Museum Herbarium, dan museum lainnya di luar Pulau Jawa mulai diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Sejak museum-museum diserahkan ke pemerintah pusat, museum semakin berkembang. Bahkan museum baru pun bermunculan, baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh yayasan-yayasan swasta.
Perubahan politik akibat gerakan reformasi yang dipelopori oleh para mahasiswa pada 1998, telah mengubah tata negara Republik Indonesia. Perubahan ini memberikan dampak terhadap permuseuman di Indonesia. Direktorat Permuseuman diubah menjadi Direktorat Sejarah dan Museum di bawah Departemen Pendidikan Nasional pada 2000. Pada 2001, Direktorat Sejarah dan Museum diubah menjadi Direktorat Permuseuman. Susunan organisasi diubah menjadi Direktorat Purbakala dan Permuseuman di bawah Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata pada 2002. Direktorat Purbakala dan Permuseuman diubah menjadi Asdep Purbakala dan Permuseuman pada 2004. Akhirnya pada 2005, dibentuk kembali Direktorat Museum di bawah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. (Tim Direktorat Museum)
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Sejarah awal dan berdirinya museum mpu tantular
1.2.2        Koleksi dari museum mpu tantular
1.2.3        Museum mpu tantular sebagai media pembelajaran sejarah
1.3  Tujuan
1.3.1        mengetahui awal berdirinya museum mpu tantular
1.3.2        mengetahui koleksi dari museum mpu tantular
1.3.3        menghubungkan keberadaan museum mpu tantular dengan fungsi nya sebagai media pembelajaran sejarah










BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Museum Epu Tantular
            Museum Negeri Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur merupakan kelanjutan dari Stedelijh Historisch Museum Surabaya, yang didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber tahun 1933 yang kemudian diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937.Usaha memperluas museum terlaksana dengan diperolehnya sebuah bangunan baru di Jalan Simpang (sekarang Jalan Pemuda 3 Surabaya) dan dibiayai oleh dana yang terkumpul dari masyarakat. Tata ruangan museum ini mempunyai suatu ruangan koleksi, perpustakaan, ruang kantor, auditorium. Untuk penyempurnaan museum yang dipimpinnya, Von Vaber banyak mengadakan hubungan internasional. Namun sebelum cita-citanya tercapai, Von Vaber meninggal pada tanggal 30 September 1955.
Sepeninggal Von Vaber, museum tersebut tidak terawat, koleksi-koleksinya banyak yang rusak dan hilang. Kemudian museum dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum. Pada tahun 1964, museum ini memperoleh pendanaan dari Yayasan Bapak Prof Dr. M. Soetopo. Setelah dibentuknya Direktorat Permuseuman di lingkungan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, perhatian Pemerintah terhadap museum yang dikelola Yayasan Pendidikan Umum menjadi lebih serius.
Museum Pendidikan Umum dibuka secara umum tanggal 23 Mei 1972 dan diresmikan dengan nama "Museum Jawa Timur". Selanjutnya timbul inisiatif untuk menyerahkan Lembaga Kebudayaan ini kepada Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur. Dalam proses penegerian, Yayasan Pendidikan Umum bekerja sama dengan perwakilan Kantor Pembinaan Permuseuman Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan diterbitkannya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 13 Februari 1974 Nomor 040/C/1974, Museum Jawa Timur berstatus Museum Negeri. Peresmian dilakukan tanggal 1 Nopember 1974 dengan serah terima dari Ketua Yayasan Pendidikan Umum untuk Kebudayaan R. Banu Iskandar kepada Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. I.B. Mantra. Selanjutnya museum Jawa Timur diresmikan dengan nama "Museum Negeri Jawa Timur Mpu Tantular" dengan lokasi di Jalan Pemuda 3 Surabaya. Karena bertambahnya koleksi, pada pertengahan tahun 1975 Museum dipindahkan ke tempat yang lebih luas yaitu di Jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya, yang diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1977 oleh Gubernur Jawa Timur Sunandar Priyosudarmo.
2.2 koleksi benda benda sejarah dari museum mpu tantular
·         Koleksi Di Aula
1.      TUK-TUK
Asal : Sumenep - Madura, merupakan alat komunikasi tradisional, berfungsi sebagai atribut sosial, biasanya dimiliki oleh Kepala Desa. Semakin terawat baik melambangkan derajatnya semakin baik.




2.      Miniatur Candi Borobudur Dan Candi Prambanan
Miniatur candi Borobudur skala 1 : 100
Candi yang bersifat Budhistis ini dibangun oleh Dynasti Sailendra, pada tahun 842 Masehi. Candi yang didirikan di daerah Muntilan (Magelang) ini dibuat dengan konstruksi bangunan bertingkat, bagian puncaknya berbentuk Stupa. Tingkatan dalam Candi Borobudur ini merupakan simbul tentang tingkatan yang harus dilalui oleh seorang Bodhisatwa menuju tingkat Budha yang tinggi. Gambaran arti simbulnya dapat disimak dari relief yang dipahatkan pada dinding candi dari tingkat yang paling bawah hingga tingkat yang paling atas yang berbentuk Stupa kosong. Bagi pemeluk agama Budha, hingga kini masih memanfaatkan candi Borobudur ini untuk melakukan kegiatan upacara Agama, misalnya upacara Waisak.
Miniatur candi Prambanan skala 1 : 250

Candi Prambanan/Candi Lorojonggrang adalah candi peninggalan Raja Balitung (abad X), sebagai komplek percandian. Candi prambanan terdiri dari candi induk dan beberapa candi perwara yang diatur mengelilingi candi induk tersebut. Kompleks candi Prambanan yang didirikan di desa Prambanan, Kabupaten Sleman ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa-dewa agama Hindu, pada dinding Relief yang menceritakan Ceritera Ramayana.
Patung Praja Paramita (Replika)
Asal : Jakarta. Sebagai lambang ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Patung Praja Paramita sangat terkenal dilingkungan penganut Agama Budha, patung yang menggambarkan tingginya karya seni jaman Hindhu-Budha di Jawa Timur ini, pernah tinggal di Negeri Belanda bebarapa puluh tahun lamanya. Berkat kerja antara pemerintahan indonesia dengan pemerintah Belanda patung Praja Paramita dapat kembali ke Indonesia, dan sekarang tersimpan di Museum Nasional. Sikap duduk diatas bantalan teratai dengan tatakan berbentuk segi empat bersandar pada Praba (sandaran belakang) berbentuk kurawal, berhias lidah api. Tangan depan bersikap Dharmacakra Mudra, yaitu sikap tangan memutar roda. Sikap tangan seperti ini merupakan ciri khas meditasi sebagai simbul perputaran sebab akibat dalam lingkungan hidup, tangan lain tampak membawa buku (keropak) diatas teratai.
Patung Brahma
Dewa Pencipta alam Semesta. Asal : Stedelijk Historich Museum Surabaya



PATUNG WISNU
Dewa Pelindung Alam Semesta Asal : Stedelijk Historisch Museum Surabaya
Patung Siwa
Dewa Perusak alam semesta Asal : Stedelijk Historisch Museum Surabaya
Patung Durga Mahisasuramardhini
Asal : Candi Jawi (Pasuruan) Dalam wujudnya sebagai Durga Mahisasuramardhini, Dewi Durga/ Dewi Uma/Dewi Parwati ; dilukiskan sedang berjuang mengalahkan Asura dalam wujud raksasa, dikisahkan Kahyangan tempat para Dewa tinggal, mengalami kekacauan akibat ulah seekor kerbau (Mahisa). Prajurit para Dewa tidak mampu mencegah, berkat kesaktiannya Dewi Parwati (Sakti/istri) Dewa Siwa, berubah wujud menjadi Dewi Durga, yaitu seorang Reksi, dengan gagah berani dihadapi Mahesa yang sedang mengamuk tersebut. Mahesapun dapat ditangkap, saat akan dibunuh Mahesa berubah wujud menjadi seorang raksasa atau asura. Asura sebagai lambang kejahatan dapat ditaklukkan oleh Dewi Duga Mahisasuramardhini diwujudkan sebagai perlambang kebaikan melawan kejahatan, dan seberapapun besarnya kekuatan kejahatan pasti dapat dihancurkan oleh kebaikan sekecil apapun wujudnya, sebagai wanita tentu kekuatan para dewa, namun karena berada difihak yang benar, ternyata mampu menaklukan kekuatan ASURA yang diwujudkan dalam bentuk Mahisa (Kerbau).
2.3  Museum Sebagai Media Pembelajaran Sejarah
Sejarah merupakan kejadian atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau yang membawa perubahan dan perkembangan secara berkesinambungan. Sebagai peristiwa, sejarah adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia pada masa lampau (past human effect) yang sekali terjadi (einmatig). Oleh karena itu, suatu peristiwa sejarah tidak dapat diulang, karena hanya terjadi pada masa lampau tersebut.
Media dalam pembelajaran sejarah memegang peranan dan posisi yang penting. Hal ini dikarenakan media membantu dalam menggambarkan dan memberikan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Peranan media yang lain adalah sebagai pengembang konsep generalisasi serta membantu dalam memberikan pengafaman dari bahan yang abslrak -seperti buku teks- menjadi bahan yang jelas dan nyata. Selain peranan tersebut, Saripudin menyatakan bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar dan dimanfaatkan untuk memfasilitasi kegiatan belajar (Djamarah, 2002:139). Dengan demikian untuk mewujudkan efektivitas pembelajaran sejarah hams dilakukan optimalisasi penggunaan media pembelajaran.
Pada pendidikan tingkat dasar dan menengah, peran media sangat diperlukan dalam pengajaran sejarah. Hal ini selain mempermudah guru dalam penyampaian materi, media berfungsi untuk mengembangkan kemampuan indera anak didik. Pada tingkat perguruan tinggi media sangat penting bagi mahasiswa dalam pemahaman dan penerimaan informasi. Peiajar akan absurd bita membayangkan jenis kapak batu apabiia hanya dari informasi verbal. Namun peiajar akan segera mengetahui jenis kapak batu pada zaman prasejarah dengan meiihat langsung, atau melalui media gambar dan foto. Salah satu media yang dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkalkan pemahaman terhadap materi zaman prasejarah adalah museum.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, museum merupakan (1) gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut untuk mendapat perhafian umum seperti peninggalan sejarah dan arkeologis, seni dan ilmu; (2) tempat untuk menyimpan barang kuno {Depdikbud, 1990). Pengertian tentang museum telah dirumuskan oleh ICOM [International Council of Museum), yaitu museum adalah suatu lembaga bersifat tetap, tidak mencari keuntungan dalam melayani masyarakat, dan dalam perkembangannya terbuka untuk umum, yang berfungsi mengawetkan, mengomunikasikan, dan memamerkan barang-barang pembuktian manusia dan iingkungan untuk tujuan pengkajian, pendidikan, dan kesenangan (Sulaiman, 1990:100-107).
Ada beberapa pembagian museum. Menurut koleksinya, museum dibedakan menjadi dua yaitu museum umum dan museum khusus. Sedangkan menurut lokasinya museum dibagi menjadi tiga, yaitu museum nasional, museum lokal, dan museum lapangan {Sulaiman, 1990:100-107). Semua jenis museum memiliki furtgsi yang sama yaitu
a)      tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan koleksi yang ada di museum
b)      pusat informasi dan penelitian,
c)      sarana untuk memberikan gambaran tentang koleksi bahan-bahan yang menarik dan institusional,
d)     media pembelajaran bidang studi tertentu, dan sebagai objek karyawisata (Natawidjaja, 1979:113-114).
Dalam dunia pendidikan, museum memiliki peranan sebagai media pembelajaran. Peranan museum sebagai media pembelajaran disebabkan fungsi museum yang memberikan informasi konkret kepada masyarakat dalam hal ini siswa dan guru. Dalam pembelajaran sejarah, museum merupakan tempat ideal sebagai sumber. informasi kesejarahan. Hal ini dikarenakan dalam museum terdapat banyak benda yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang berfungsi sebagai sarana peningkatan pemahaman terhadap peristiwa sejarah bagi peiajar.
Memahami Zaman Prasejarah dengan Penggunaan Museum sebagai Media Pembelajaran. Museum dapat digunakan sebagai media pembelajaran dengan menyesuaikan materi pelajaran. Penggunaan museum sebagai media pembelajaran disebabkan karena kompleksitas media yang tersedia sebagai penjelasan suatu peristiwa. Hal ini memberikan berbagai kemudahan bagi peiajar dalam memahami benda yang dipamerkan. Kemudahan yang diperoleh peiajar adalah karena di dalam museum telah disediakan berbagai media yang banyak memberikan informasi. Media tersebut dapat berupa model, realita, tabel, poster, atau sistem multimedia elektronik seperti media audiovisual. Namun demikian, tidak semua museum dapat dimanfaatkan dalam upaya peningkatan pemahaman peiajar terhadap materi zaman prasejarah. Hal ini dikarenakan tidak semua museum terdapat media yang menjelaskan tentang zaman prasejarah
Di dalam museum, media yang dijadikan sumber belajar berupa sumber primer dan olahannya. Sumber primer merupakan benda peninggalan atau jejak-jejak kehidupan, meliputi artefak, fosil, ecofak, featur, isefak. Artefak yaitu benda yang sebagian atau seluruhnya dibuat oleh manusia, fosil yaitu sisa kehidupan yang telah membatu, ecofac yaitu benda yang tidak dibentuk manusia tetapi berhubungan dengan manusia, feature yaitu jejak-jejak yang ditinggalkan manusia/jejak kehidupannya serta isefak atau hunian manusia. Di museum, sumber primer ini disediakan dalam wujud asli atau model, hasil olahan berupa gambar atau foto, serta penjelasan nya dalam sistem multimedia berbentuk media audiovisual, dan media gratis.
Dalam kegiatan pembelajaran, upaya untuk mempermudah penerimaan informasi dilakukan dengan penggunaan media pembeiajaran. Untuk menjelaskan mengenai masa sebelum munculnya manusia, digunakan media media berupa media audio visual berupa film, transparansi, gambar yang menggambarkan kehidupan pada masa itu dalam bentuk panel, poster penjelasan tentang proses pembentukan bumi dan perkembangannya serta fosil (realita) dan model. Selain itu juga bisa digunakan data hasil analisis geologis yang telah diolah dalam bentuk media gratis.
Media yang digunakan untuk menjelaskan materi evolusi manusia antara lain fosil untuk menjelaskan perbandingan dan ciri-ciri manusia, bagan yang disusun untuk menjelaskan perkembangan kehidupan manusia purba dari munculnya sampai manusia modem, gambar yang menerangkan dan mem bantu visualisasi peiajar tentang benda dan situasi tertentu. Peta untuk menjelaskan persebaran kehidupan manusia purba, film, dan Iain-Iain.
Penjelasan tentang materi zaman kebudayaan batu dan perundagian dapat dilakukan dengan penggunaan media realita berupa peninggalan-peninggalan kebudayaan pada masa itu seperti kapak batu, kapak lonjong, nekara, moko, perhiasan dan peninggalan kebudayaan lainnya. Selain itu, digunakan pula gambar yang menerangkan kehidupan manusia pada zaman batu, bagan tentang perkembangan kehidupan masyarakat, tabel sejarah, film tentang kehidupan manusia pada masa itu, dan Iain-Iain. Penggunaan media elektronik sebagai penunjang bisa pula dipertimbangkan dalam mempermudah penjelasan tentang zaman prasejarah.
Pemanfaatan museum sebagai media pembelajaran dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman pelajar terhadap materi zaman prasejarah. Hal ini dikarenakan dalam museum terdapat berbagai macam media yang membantu siswa memahami materi tentang zaman prasejarah secara nyata. Melalui museum, pelajar belajar secara langsung tentang zaman prasejarah baik melalui realita, model, grafis, dan sistem multimedia, sehingga informasi yang didapatkan tidak bersifat verbalistis dan abstrak, tetapi besifat konkret. Adanya informasi konkret dari media ini, akan membantu tewujudnya konsep visualisasi, intrepretasi, dan generalisasi pelajar terhadap materi zaman prasejarah. Dengan tercapainya tiga aspek tersebut, yaitu visualisasi, interpretasi, dan generalisasi maka pemahaman pelajar ferhadap materi zaman prasejarah teiah terwujud. pembelajaran berbasis media adaiah dengan penggunaan museum sebagai media pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah, museum berfungsi untuk mewujudkan visualisasi, interpretasi, dan generalisasi. Hal ini dikarenakan terdapat banyak media yang menyampaikan berbagai informasi kepada pelajar, khususnya tentang zaman prasejarah. Media yang terdapat dalam museum yang dapat menjelaskan tentang materi zaman prasejarah antara lain bagan, grafik, gambar, diorama, sistem multimedia, serta replika dan model. Oleh karena ilu, dengan optimaiisasi penggunaan media pembelajaran akan terwujud kegiatan pembelajaran yang efektif, sehingga pemahaman petajar tentang materi zaman prasejarah akan terwujud.










Bab III
SIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Museum Negeri Mpu Tantular Propinsi Jawa Timur merupakan kelanjutan dari Stedelijh Historisch Museum Surabaya, yang didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber tahun 1933 yang kemudian diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937.Usaha memperluas museum terlaksana dengan diperolehnya sebuah bangunan baru di Jalan Simpang (sekarang Jalan Pemuda 3 Surabaya) dan dibiayai oleh dana yang terkumpul dari masyarakat. Tata ruangan museum ini mempunyai suatu ruangan koleksi, perpustakaan, ruang kantor, auditorium. Untuk penyempurnaan museum yang dipimpinnya, Von Vaber banyak mengadakan hubungan internasional. Namun sebelum cita-citanya tercapai, Von Vaber meninggal pada tanggal 30 September 1955.
Ada beberapa pembagian museum. Menurut koleksinya, museum dibedakan menjadi dua yaitu museum umum dan museum khusus. Sedangkan menurut lokasinya museum dibagi menjadi tiga, yaitu museum nasional, museum lokal, dan museum lapangan {Sulaiman, 1990:100-107). Semua jenis museum memiliki furtgsi yang sama yaitu
e)      tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan koleksi yang ada di museum
f)       pusat informasi dan penelitian,
g)      sarana untuk memberikan gambaran tentang koleksi bahan-bahan yang menarik dan institusional,
h)      media pembelajaran bidang studi tertentu, dan sebagai objek karyawisata (Natawidjaja, 1979:113-114).



Daftar pustaka

1.      http://museumku.wordpress.com/museum-di-jakarta/di akses tanggal 6 maret 2012
2.      http://museum-mputantular.com/ akses tanggal 6 maret 2012
4.      javascript:void(0)
5.      http://mputantular.tripod.com/selayang.html. akses tanggal 6 maret 2012
6.      http://mputantular.tripod.com/koleksi.html. akses tanggal 6 maret 2012
7.      Asmito. 1988. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
8.      Depdikbud. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
9.      Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
10.  Widja, I Gde. 1989. Dasar-Dasar pengembangan Strategi seria Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar