Selasa, 22 Mei 2012


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
           
            Terjadinya dunia kita ini, kira-kira 250 ribu juta tahun yang lalu. Perlu kita ketahui didalamnya terdapat kebudayaan yang merupakan kesatuan yang tak dapat terpisahkan dengan manusia. Salah satu kebudayaan itu ialah kebudayaan megalithikum yang merupakan rangkaian dari penelitian ini. Kebudayaan megalithikum ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan- bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini biasanya tidak dikerjakan secara halus, tetapi hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. Perlu kita ketahui bahwa di negeri kita sampai kini pun masih terdapat kebudayaan megalithikum yang masih hidup, yang menjadi kebudayaan sekarang seperti di pulau Nias, Sumba, dan Flores. Hal ini tentu saja sangat banyak banyak memberikan petunjuk kepada kita untuk menyelami megalithikum prasejarah, tidak hanya mengenai hasil-hasil kebudayaannya melainkan juga alam pikiran yang tersimpan dibelakangnya dan menjadi pendorong. Hasil-hasil kebudayaan megalithikum yang terpenting adalah menhir, dolmen, sarcophagus atau keranda, dan kubur batu.

1.2 Rumusan Masalah
            Dari latar belakang yang dikemukakan oleh penulis, terdapat beberapa permasalahan, antara lain :
     1. Apa saja situs-situs sejarah yang ada di desa kamal dan pekauman ?
     2. Dimana situs-situs yang banyak ditemukan, dan apakah factor yang mendorong
         semua ini !!

1.3  Tujuan Penulisan
            Berdasarkan permasalahan yang ada, maka tujuan yang ingin dicapai penulis adalah :
1.      Mengetahui situs-situs sejarah di desa kamal dan pekauman.
2.      Mencari cara untuk melestarikan situs-situs sejarah agar tidak dirusak oleh tangan- tangan jahil.
4
BAB II
PEMBAHASAN

SITUS-SITUS SEJARAH DI DESA KAMAL KECAMATAN ARJASA DAN CAGAR BUDAYA PEKAUMAN BONDOWOSO

A.Situs-situs sejarah di desa kamal kecamatan arjasa.
           
            Di desa kamal terdapat situs-situs menhir seperti batu kenong tonjolan 1, batu kenong tonjolan 2, kubur batu, menhir. Batu kenong tonjolan 1 melambangkan bentuk persembahan kepada arwah nenek moyang dan menjadi pemujaan yang dibuat sekitar abad X – XIV M ( puslit arkenus ).

BATU KENONG TONJOLAN 1


BATU KENONG TONJOLAN 2
5

            Batu kenong tonjolan 1 sebagai tanda penguburan sedangkan batu kenong tonjolan 2 sebagai ompak atau alas bangunan rumah dari kayu.

Kubur batu ialah peti minyak dan batu, ke empat sisinya berdinding papan-papan batu bagian alas dan bidang atasnya juga terbuat dari batu. Dibuat sekitar abad X – XIV M ( puslit arkenas ).

KUBUR BATU


Selain itu ada juga menhir yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 600M. Tiang batu atau tugu batu yang didirikan sebagai tanda peringatan yang melambangkan arwah nenek moyang dan menjadi benda pemujaan. Dibuat sekitar abad X – XIV M   ( puslit arkenas).







6
MENHIR

            Di dekat menhir ini terdapat pohon besar dan dikira dahulu orang-orang yang dating selalu memebwa sesajen sebagai tanda penghormatan kepada hal yang ghaib. Sesajen itu biasanya kue apem yang berfungsi sebagai payung penyelamat warga-warga disekitarnya. Media menhir sebagai arah berkomunikasi. Menhir juga sebagai symbol fisik orang yang dimakamkan atau orang yang sudah meninggal. Diperkirakan pada tahun 1988 masih ada penghormatan.
`           Situs-situs menhir banyak ditemukan di desa kamal, Karena daerah ini memiliki suasana geografis daerah pegunungan. Daerahnya subur, Banyak makanan dan Air yang cukup mudah sewhingga pada zaman dahulu banyak orang yang tinggal didaerah ini.
B. Situs-situs Sejarah Cagar budaya Pekauman Bondowoso
            Masih ingat bahwa ada peradaban megalithikum sebelum peradaban terkini. Dan situs-situs bangunan batu besar yang menandai keberadaan budaya megalithikum yang terdapat di Bondowoso. Bondowoso pernah disebut-sebut sebagai kabupaten minus di jawa timur, tapi bila ditelusuri dari situs-situs peningggalan zaman batu dikota yang terletak sekitar 192 kilometer arah tenggara Surabaya ini, boleh dikota bondowoso menjadi semacam saksi sejarah peradaban megalithic satu-satunya di jawa timur yang terkaya dan masih bias disaksikan hingga kini. Sebagai catatan ahli sejarah dan arkeologi yang pernah meneliti wilayah ini, menemukan benda-benda bersejarah salah satunya di kecamatan Grujugan desa pekauman.
7
            Namun sebenarnya seperti yang dijelaskan Selamet Riyadi, peneliti dan ahli sejarah yang menemani liputan mossaik bila mau menelusuri lebih seksama kita akan  dengan mudah menemukan batu-batu peninggalan zaman prasejarah itu banyak titik, tersebar merata di desa-desa hamper 20 kecamatan di Bondowoso. Kadang batu-batu peninggalan zaman megalithic ini berserakan tidak jaugh dari jalan kota, sawah-sawah, sungai dan tepi-tepi jalan kecil. Sebagian besar lainnya banyak ditemukan di tengah tanah tegalan petani dan di tengah perkampungan penduduk.
            Di desa pekauman kecamatan Grujugan sekitar 5 kilometer disebelah selatan kota Bondowoso, misalnya terdapat satu patung nenek moyang yang unik dengan jenis patung polenisia. Patung ini memiliki ciri- ciritidak ada leher, telinganya menonjol, pantatnya montok, tangan melekat di badan. Orang bondowoso yang meyoritas bebahasa madura menyebutnya Betoh Nyai ( batu nyai ). Tetapi yang paling lajim menyebutnya arcah menhir.


ARCA MENHIR
           
Arca menhir ini memiliki tinggi 153 sentimeter dan tebal 52 sentimeter , lingkar dadanya berukuran 60 sentimeter sedangkan lingkar kepalanya 46 sentimeter. Patung betoh nyae atau arca menhir ini berada di tengah kebun milik petanib. Patung ini dipercayai sebagai dewi kesuburan. Patung ini masuk klasifikasi sebagai patung tipe steattopigic atau menhir.Di sekitar betoh nyae terdapat puluhan batu kenong, sarko fogus dan dolmen.
8
            Adapun situs sejarah lainnya misalkan dolmen yang banyak ditemukan ditengah lading petadi ukurannya besar-besar menunjukkan status penghuni daerah  itu dimasa lalu. Semakin besar dolmen menunjukkan tingginya status mereka, mungkin karena kekayaan atau keramatnya seseorang.
            Bahkan kata alumnus FKIP UNEJ di perkirakan dolmen Bondowoso berlangsung antara awal tarikh masehi sekitar 2.500 -2.000 SM. Gambaran itu konon terlihat dari dolmen di desa pekauman, grajungan dari asal katanya Dol berarti meja dan men adalah batu, warga setempat menyebutnye betoh meja (batu meja ). Dolmen ini pada perkembangannya bukan lagi merupakan sarang pemujaan tetapi berfungsi sebagai penguburan. Jenasah ditempatkan dibawah diantara empat sampai lima kaki dolmen. Didalamnya terdapat berbagai kubur yang ditemukan beberapa tahun terakhir.


DOLMEN
           

           





9

Sarcophagus atau keranda batu pandhusa juga ada di daerah Bondowoso. Sarcophagus berfungsi sebagai usungan mayat. Bahan baku pembuatan sarcophagus adalah batuan konglomerat yang terdiri dari wadah dan tutup. Sacrophagus berupa batu monolit berbentuk memanjang yang dicekungkan bagian tengahnya sekilas tampak seperti lesung, diatasnya terdapat pula tersendiri dengan bentuk yang sama. Terkadang terdapat pula hiasan pada tutup sarcophagus tersebut, hiasan ukir-ukiran yang menggambarkan nenek moyang, biasanya hiasan itu menyerupai kadal atau gambaran raut muka manusia dengan mata melotot.



SARCOPHAGUS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar